Menulislah, Berbagi dan Jangan Berhenti

Dengar, itu bukan burung biasa, suaranya sangat berbeda”, Kata Tim Folger, kepada saya, minggu lalu itu di sebuah perkampungan di Lhoknga, Aceh Besar. Tim adalah salah seorang penulis di National Geographic Amerika, yang sedang berkunjung ke Aceh. Kunjungan Tim ke Aceh, adalah yang pertama kali. Namun ia kelihatan punya persiapan penuh. Semua tentang Aceh ia baca. Beberapa buku yang sempat saya lihat  menunjukan catatan sejarah panjang tsunami di Sumatera, sebelum 2004.

Bahkan bukan itu saja, Tim sampai hapal suara burung apa yang melintas disekitar kami. Bukan pengetahuan biasa. Disebuah areal perumahan yang dulunya di bangun oleh Turkey di sebuah kawasan Lhoknga-Leupung, Aceh Besar, pada masa Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh, saya dan Tim terlibat obrolan serius tentang tsunami dan gempa Aceh juga Sumetera. Jujur saya belum pernah mendengar sejelas ini. Bagaimana kondisi Sumatera dimasa lampau juga sejarah bencananya. Dulu pernah saya mendengar presentasi seorang pakar gempa Indonesia, Danny Hilman. Namun karena saya tak pernah punya waktu jalan yang berdurasi lama seperti dengan Tim, maka perjalanan dua hari menemaninya di Aceh, 23-23 Juli yang lalu jadi terasa berbeda.

Kita harus mendengar suara itu, kenapa burung itu banyak di pantai daerah ini”, Tim membuka pembicaraan sambil menunjuk tanganya kearah sebuah burung  berjambul itu.

Ini benar-benar unik, padahal burung-burung jenis tersebut biasa saya temui di daerah yang sangat dingin dan tidak berangin kencang seperti di Aceh. Pasti mereka kesasar ke Aceh” ujar Tim sambil tersenyum namun menunjukan muka serius.

Kami pun mendengar  bersama burung-burung itu “berbicara” dan mendengar burung itu berhenti dan setelah itu mengeluarkan kicauan yang keras sekali. Saya tak pernah mendengarkannya sebelumnya. Bahkan sayapun tak pernah peduli suara-suara burung seperti itu sebelumnya. Bagi saya, burung yang mencuri perhatian, adalah yang bersuara merdu bak penyanyi.
ini bagian dari perubahan iklim Hendra”, Tim berkata lagi
apakah kamu paham perubahan iklim ?”, tiba-tiba Tim membuka pembicaraan lagi.
ya , saya tahu dalam kapasitas ilmu yang saya pelajari saja, misal tiba-tiba musim hujan, namun yang terjadi angin. Kadang musim kering, yang terjadi hujan”, saya mengeluarkan pendapat sebisanya.
ya, itu juga benar”, Ujar Tim

Hendra, perubaahan Iklim itu semakin terasa pasca gempa dan tsunami di Aceh, tahun 2004 yang lalu. Makanya banyak sekali peneliti yng kosentrasi melakukan riset banyak hal yang terjadi di Indonesia dan Asia, terutama perubahan iklim, tsunami dan gempa”, Ujar Tim kepada saya

“Ya tim, saya pernah dengar itu beberapa kali, walau tak secara dalam”, jawab saya

Kalau sejarah gempa Sumatera, kamu sudah pelajari?” tiba-tiba pertanyaan itu seperti menohok saya dengan kuat

Saya berusaha tenang, agar tak terlihat gugup. Walau wajah bingung tak dapat saya sembunyikan di depannya.

Saya kan bukan ahli Geologi, Tim”,  saya mencoba menjawab sambil berusaha agak cuek

hah? Kamu salah, justru kita harus belajar itu, kita harus cari tahu, dan paham betul sejarahnya. Paling tidak secara narasi meski tak secara teknologi”,  Tim menimpali lagi. Ucapannya kali ini benar-benar mengena. Sayapun tak bisa lagi mencari alasan untuk menjawab

Ditengah kebingungan tersebut, saya berpikir, kenapa tak bertanya saja kepadanya kembali, siapa tahu ada ilmu baru. Hehe, gayung bersambut

Tim, kamu tahu banyak sepertinya tentang sejarah bencana gempa dan tsunami di Sumatera”, saya mulai melancarkan serangan halus

Saya sudah menduga, pertanyaan itu akan keluar dari mulut kamu”, ujarnya, sambil tertawa.

Suasana cair pun mulai tercipta. Saya belajar bersama Tim, bukan seperti guru dan murid. Bukan pula seperti mahasiswa S3 yang memberi kuliah kepada mahasiswa yang baru masuk S1, yang belum banyak tahu apa-apa. Namun seperti seorang sahabat, yang ingin sahabatnya juga pintar seperti dia. Dari bibir penulis yang menyelesaikan S1 di Jurusan Fisika Murni dari George Washington University, dan S2 serta S3 Program Kajian Media dan Jurnalistik di Universitas yang sama, saya pun mendengar banyak cerita tentang bencana di pulau yang bernama Sumatera

***

Dari kisah yang kembali diceritakan Tim kepada saya, saya jadi mengerti walau sedikit. Salah satu pulau yang dalam buku sejarah disebut paling sering mengalami gempa adalah Sumatera. Dalam buku Sejarah Sumatera yang ditulis William Marsden tahun 1783 misalnya, disebutkan bahwa gempa telah menjadi bagian dari sejarah Sumatera. “Gempa bumi yang paling keras saya alami terjadi di daerah Manna pada 1770. Sebuah kampung musnah, rumah-rumah runtuh dan habis dimakan api. Beberapa orang bahkan tewas,” tulis Marsden. Ia juga menyebutkan, bahwa dirinya mendapatkan informasi tentang gempa Nias di tahun 1763 yang telah menewaskan seluruh penduduk kampung di pulau itu.

Di Indonesia, tsunami tertua yang tercatat di Laut Banda, 17 Feberuari 1674. Tinggi gelombang saat itu diperkirakan mencapai 80 meter dengan korban sekitar 3.000 orang. Selama kurun waktu 200 tahun (1801-2003) tak kurang 161 tsunami terjadi di Indonesia. Sekitar 73 persen tsunami terjadi di bagian timur Indonesia ; di wilayah yang terbentang dari selat Makassar kearah timur

Sejarah terus saja mengalir. Beberapa wilayah yang tercatat dilanda tsunami misalnya halmahera pada 5 April 1969. Bencana tsunami ini tidak tergambarkan dengan jelas di media massa. Bahkan Kompas baru menurunkan beritanya pada edisi 25 April 1969 atau 20 hari setelah kejadian. Kompas pada saat itu juga belum mengunakan istilah tsunami. Judul beritanya “Gelombang Air Pasang Melanda Halmahera”.

Kemudian tsunami kembali terjadi di Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat) pada tanggal 19 Agustus 1977. Kemudian Kompas memberitakan bencana ini pada edisi Senin, 22 Agustus 1977, menjadi berita utama dengan judul “57 orang Diketahui Tewas Akibat Gempa”.

Dalam berita tersebut disebutkan bahwa setelah gempa, terjadilah gelombang pasang (tsunami) yang menggulung sejauh 400 meter kedaratan. Tak lama berselang, dua tahun kemudian pantai selatan Pulau Lomblen (Kabupaten Flores Timur dan Nusa Tenggara Timur), kembali dilanda tsunami pada 18 Juli 1979. Pada 12 Desember 1992 gempa dan tsunami kembali mendera Flores-NTT. Gempa 7,5 skala Richter itu menewaskan 2.080 jiwa. Saat itu Kompas memberitakannya sebagai berita utama sehari setelah bencana, yaitu edisi Minggu, 13 Desember 1992, dengan judul “Gempa Dahsyat Guncang Flores sedikitnya 90 orang tewas”, dan subjudul “terjangan tsunami 300 Meter”.

Inilah pertama kalinya Kompas memuat bencana tsunami tepat sehari setelah kejadian. Dan ini pula untuk pertama kalinya Kompas secara tegas menggunakan istilah tsunami, tidak lagi gelombang pasang.

Puncaknya adalah gempa yang disusul tsunami di Aceh dan Nias pada 26 Desember 2004, menewaskan lebih dari 150.000 jiwa di Aceh dan Sumatera. Tsunami Aceh adalah salah satu yang terbesar dalam sejaran Indonesia. Jikapun ada tsunami yang mendekati Aceh, pernah terjadi lebih dari 100 tahun lalu ketika Gunung Krakatau yang berada di pertemuan Jawa dan Sumatera meledak.

Lalu bagaimana dengan letusan Gunung”, saya kembali bertanya antusias kepada Tim. Kali ini saya  tak sabar mendengar jawabanya

Letusan Gunung Krakatau itu adalah salah satu terkuat yang pernah tercatat. Letusan yang berlangsung sepanjang tiga hari itu diikuti gelombang tsunami setinggi 40 meter. Dalam kejadian ini, dilaporkan telah menewaskan lebih dari 36.000 ribu orang.

Gelombang tsunami itu menyapu bersih pantai barat Jawa bagian barat dan pantai selatan Sumatera. Tsunami saat itu dilaporkan mencapai Australia dalam waktu 5 jam, Sri Lanka 6 jam, Kalkuta (India) 9 jam, Aden ( Saudi Arabia) 12 jam, Cape Town (Afrika Selatan) 13 jam dan Tanjung Harapan 17 jam. Krakatau yang dalam literature international pertama kali dicatat dalam peta oleh Luca Janszoon Warghenaer (1584) dan menyebutnya sebagai “Pulo Carcata” adalah gunung api yang menjadi ilustrasi banyak sekali tulisan dan obyek penelitian ilmiah. Dalam bibliografi mengenai gunung itu, Krakatoa ; a selected Natural History Bibliograpgy susunan Audrey Brodie, K. Kusumadinata, dan J.W. Brodie (1982), disebutkan bahwa terdapat tak kurang dari 1.082 tulisan ilmiah mengenai gempa dan gunung meletus. Subyek tulisan inipun sangat beragam, misalnya dari sisi zoology, botani,geologi, meteorology, osenografi, sampai sastra.

Dari Tim, saya juga jadi tahu, kalau sejarah itu semua juga dicatat dalam literature budaya di University Leiden, Belanda

Dalam literature-literatur tersebut, Suryadi, pengajar di Universitas Leiden, Belanda, menyebutkan, Krakatau disebut dengan beberapa versi : Rakata, Krakatoa, bahkan Krakatoe (groot 1884) dan Krakatao (Zimmerman 1928). Diantara banyaknya jumlah kajian ilmiah dan bibliografi mengenai Krakatau itu, hanya ada satu sumber pribumi tertulis dan mencatat kesaksian mengenai letusan Krakatau 1883 itu.  Sumber itu adalah “Syair Lampung Karam”. Suryadi dalam penelitiannya tentang syair tersebut menggambarkan betapa hebatnya bencana menyusul kedahyatan bencana di ujung barat Pulau Jawa itu.

Minimnya literature yang ditulis oleh pribumi (baca; orang Indonesia) mengenai bencana Krakatau itu masih merupakan realitas hingga saat ini. Sampai abad ke-21, minat ilmiah terhadap tema kebencanaan sangat minim, ujar Tim

Kajian dan riset ilmiah yang telah dilakukan peneliti dan penulis tersebut telah mencatat, bahwa Indonesia sebagai salah satu wilayah paling berbahaya di bumi ini karena ancaman gunung, gempa dan tsunami. Akan tetapi, catatan orang Indonesia sendiri akan hal itu sangat sedikit. Hal ini pula yang barangkali menjadi penyebab lemahnya sikap siap siaga warga terhadap bencana gempa dan tsunami

Lalu saya berpikir, serentetan bencana telah datang, tetapi hampir tak ada perbaikkan dalam tata kelola bencana. Sejarah gempa dan tsunami yang melumat Indonesia-pun hampir tidak menjadi acuan kebijakan pemerintah menyiapkan diri hingga bencana hebat datang mengguncang Aceh pada 26 Desember 2004.

Sejumlah alat pemantau tsunami di laut yang dipasang pasca gempa dan tsunami di Aceh akhir 2004 hinga sekarang banyak yang tak berfungsi. Bahkan, alat-lat inipun rusak terkena badai dan sebagian hilang, yang didiga karena dicuri.

Peringatan dini terhadap tsunami akibat gempa bumi sampai saat ini hanya berdasarkan data kegempaan, bukan pemantauan perilaku laut. Bencana pun selalu saja saja dilaporkan setelah terjadi. Sangat jarang ada yang menyoroti ihwal mitigasi dan pendidikan bencana.pikiran akan kalimat diatas semakin menghantui

Padahal, negeri ini memiliki banyak sekali kisah-kisah inspiratif yang mengandung pengetahuan dan mengandung kebenaran sebagai bagian dari mitigasi bencana. Namun karena semakin hebatnya teknologi dan majunya temuan manusia yang terkait perkembangan teknologi, seperti menenggelamkan kisah-kisah inspiratif dan mengandung kebenaran tersebut. Walau folklor atau cerita rakyat berisi kebijakan masyarakat tradisional dalam mengantisipasi bencana sering diabaikan. Sebagian besar malah hilang tak tercatat.

Mengingat itu semua, saya pun bercerita kepada Tim, tentang apa yang saya dan team lakukan.

saya sedang menyusun buku tentang kearifan lokal tersebut, Tim” kata Saya.

Kehadiran buku  yang rencananya kami beri judul –menelusuri kearifan lokal di tanoh indatu- ini, dimaksudkan untuk memberikan sebuah informasi, catatan perjalanan penelusuran jejak kearifan lokal serta kerangka kerja penelusurannya. Hal ini memberikan sebuah gambaran dan kerangka kerja mengenai pengetahuan lokal dalam kesiapsiagaan bencana. Pemahaman akan pengetahuan lokal ini juga dimaksudkan untuk mendalami pemahaman tentang bagaimana hal ini dapat dimanfaatkan pada penanganan bencana; manfaat serta permasalahan yang termasuk didalamnya. Buku ini, berupaya untuk menyajikan informasi yang utuh dan tidak separuh-separuh, tentang kondisi yang terjadi di lapangan yang ditujukan untuk pengembangan dan penelitian organisasi-organisasi yang bergerak di bidang penanganan bencana, meski tidak secara  khusus“, saya dengan panjang lebar menceritakan itu pada Tim

bagus itu, jika bukunya sudah selesai jika diizinkan, saya akan menuliskan testemoni di buku itu” ujar Tim bersemangat

Paling tidak bisa mewakili tentang apa yang terjadi di lapangan. mencatat bagaimana perkembangan informasi lokal yang tersaji dalam kearifan local (local wisdom) dalam memperkenalkan ketahanan masyarakat dimana di pelosok kabupaten/kota di Provinsi Aceh, dengan risiko-risiko terhadap bahaya bencana alam patut dipertimbangkan” Ujar Tim lagi

Ya, saya melakukan itu” ujar saya senang

***

Obrolan saya dan Tim, sangat sederhana, bahkan jauh dari kesan serius. Namun paling tidak saya jadi tahu sejarah gempa dan bencana Sumatera meski sedikit. Saya jadi ingat, Prof. TANAKA, yang memberikan kesempatan kepada saya menemani Tim Folger selama dua hari itu. Ucapan itu disampaikan kepada saya dan 8 bulan yang lalu

Sehebat apapun penelitian, program dan kegiatan, jika tidak dipublikasikan sama saja”, Ujar beliau saat itu.

Saya juga terngiang  kembali kata-kata Tim, saat saya mengantarkannya di Bandara sultan Iskandarmuda, Banda Aceh, sebelum bertolak ke Singapore dan Jepang, setelah menyelesaikan misinya di Aceh

Bayangkan, ketika data berlimpah dan teknologi yang tidak selalu membantu. Maka menulislah” Ujar Tim, sebelum melambaikan tanganya kepada saya

Ya, menulislah. Jangan berhenti. Kali ini kata saya kepada nurani

This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>