DREAM IS COME TRUE. Mimpi yang menjadi kenyataan. Peribahasa sepertinya tepat menggambarkan perasaan saya bertemu dengan sosok penulis, yang tulisannya sudah saya baca sejak duduk di kelas 2 SMU dulu. Penulis itu, DR. Ninok Leksono. Mengenal Pak Ninok nyaris saya dapatkan hanya melalui tulisannya di Koran Kompas. Tepatnya, saya membaca pemikiran cerdas dan ide–ide cemerlang nya lewat tulisan. Ya, memang hanya lewat tulisan.
Adalah Bapak DR. Khairul Munadi (Pak KM-red), Ketua Divisi Knowledge Management, di sebuah lembaga penelitian riset bencana, yang selalu menginspirasi dan memberi tantangan-tantangan seru untuk saya dan teman-teman selesaikan di ruangan, termasuk mendiskusikan angan-angan jika saja Pak Ninok Leksono, yang mahir dan paham betul dengan tulisan yang mengangkat tema-tema lingkungan, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta meramu ulasan penting tentang bencana di Indonesia, bisa dihadirkan memberi knowledge sharing kepada semua pekerja media, aktivis lingkungan dan pekerja pengurangan risiko bencana di Aceh, pasti seru.
Singkat cerita, Pak KM, ternyata juga sudah lama terkesan dengan tulisan-tulisan Pak Ninok, selain catatan pinggir Goenawan Mohammad, yang sudah dibacanya sejak menempuh pendidikan sarjana di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, tahun 90-an silam. Tentu saja ini menjadi challenge bagi saya dan teman-teman. Ini bukan challenge biasa, namun tantangan yang ngeri-ngeri sedap. Bisa nggak ya mendatangkan pembicara yang “super sibuk” itu ke Banda Aceh? Ketengah-tengah kami semua, mengingat Pak Ninok selain menjadi Redaktur Senior KOMPAS, juga baru saja menjabat Rektor Universitas Multimedia Nusantara, Jakarta, sebuah universitas milik grup kompas. Singkat cerita petualanganpun dimulai.
Bermula dari facebook
KEHADIRAN situs sosial jaringan pertemanan, yang familiar disapa facebook atau si mukabuku, ternyata memberi dampak fositif (jika mau digunakan positif), untuk mengenal orang-orang hebat sekalipun di muka bumi ini. Terlebih jika orang yang kita invite mau berteman dengan kita ketika di invite. Hal ini saya manfaatkan sebaik-baiknya langkah ini untuk mengenal secara dekat sosok Ninok Leksono.
Dalam buku yang saya baca karya Stephen R. Covey’s, The 7 Habits of Highly Effective People, dikatakan untuk mengenal orang terhebat sekalipun di muka bumi ini, hanya butuh enam tahap dalam mengenalnya. Artinya untuk mengenal presiden, bisa saja kita mengenal pembatu rumah tangganya terlebih dahulu. Maka ruang, jarak dan waktu pun tak menjadi bagian dari masalah Kembali ke uraian diatas, saya pun memulai mengenal Pak Ninok, dalam media yang lain, facebook.
Dalam pesan saya di akun facebook, ya saya katakan begini.
“Dear Pak Ninok. Kenalkan, nama saya Hendra, saya bekerja di Banda Aceh. 3 tahun terakhir saya konsentrasi untuuk isyu-isyu kebencanaan, terutama bidang knowledge management. Dalam waktu dekat, saya dan teman-teman berencana mengadakan workshop penulisan dengan tema-tema kebencanaan. Jika Bapak tidak keberatan, saya ingin sekali ngobrol banyak by e-mail dan phone. Kami ingin mengundang Bapak ke Aceh, dan bertemu dengan teman-teman saya yang juga punya semangat yang sama dengan saya. Berikut no HP dan email saya Pak, jika tak keberatan saya ingin dapat no HP dan email Bapak”-salam dari Bumi Serambi Mekkah.\
Saya tahu, pesan itu agak kaku dan terlalu berani. Tapi saya juga tahu, Insya Allah Pak Ninok tahu niat saya baik dengan tujuan yang baik. Tak diduga tak disangka, ketika sepuluh menit berlalu, invite saya di confirm oleh Pak Ninok, dan di Blackberry saya masuk sebuah pesan sms.
“salam Hendra, ini no Hp dan email saya , semoga bermanfaat. Saya senang mendapat pesan dari Hendra, semoga saya bisa ke Aceh membantu teman-teman untuk sharing apa yang saya dapatkan” What???, saya mendapat sms dan telpon apa kabar dari Pak Ninok, tak lama berselang.
Respon yang luar biasa. Kali ini bukan saja dari seorang penulis idola saya, namun juga dari seorang Doktor yang kini menjadi Rektor Universitas Multimedia Nusantara- Jakarta. So humble. Pak Rektor, saya bersemangat. Kondisi saya yang sedikit capek pada saat itu, berubah semangat. Saya seperti mendapatkan bahan bakar baru untuk semangat.
Sultan Iskandarmuda airport
JUM”AT, 6 Mei 2011. Setelah menutup workshop hari pertama yang sudah saya dan team rencanakan, saya pun bergegas menjemput Pak Ninok, yang datang pada sore hari itu. Bersama salah seorang sahabat, Nurul Islami, diperjalanan kami berdua sibuk mendiskusikan “gimana ya nanti bertemu orang yang sama sekali tak pernah ngobrol langsung sama kita sebelumnya?” Memang, dulu di tahun 1996, semasa kuliah saya pernah mengikuti acara workshop menulis yang pematerinya beliau, namun saat itu kapasitas saya hanya peserta. Boro-boro mau foto bareng, ngobrol saja tidak. Namun, jum’at sore itu, kami bertemu dalam sebuah suasana yang akrab, ramah dan cair sekali. Seperti bertemu dengan Ayah sendiri.
“Assalamualaikum Pak Ninok, saya Hendra, begitu sapa saya melihat sosok yang saya lihat persis seperti beberapa foto yang terpampang di facebook nya.” “ Mas Hendra ya? Begitu sapa nya sambil merangkul saya dan kemudian menyalami saya dan Nurul”. “ya pak, saya Hendra, ini Nurul, teman saya di kantor”, ucap saya membalas sapaan hangatnya. Singkat cerita kami pun keluar dari bandara menuju Kota Banda Aceh.
Sambil menyetir mobil, disepanjang jalan saya menceritakan semua kegiatan kantor kami, apa itu DRR-A, apa itu riset bencana, dan semua kegiatan yang dilakukan selama ini . beliau pun mulai ngeh dan bercerita banyak tentang dirinya.
Pak Ninok Leksono, merupakan lulusan program studi astronomi di Institut Teknologi Bandung(ITB) tahun 1975. Sedangkan master nya diperoleh dalam program ilmu perang dari Department of War Studies di King’s College, London, Inggris , tahun 80-an, dan gelar doktor didapatkan dari ilmu politik, Universitas Indonesia, tak dijelaskan tahun berapa. Lengkap sekali
“ Selamat Pak atas gelar doktor dan baru menjabat sebagai Rektor” begitu komentar saya dan Nurul bergantian” “Ah, nggak usah sebut doktornya. Saya kan cuma seorang Ninok!”, begitu selalu sosok bersahaja itu menjawab komentar kami. Bagi kalangan tertentu, terutama lingkungan grup Kompas Gramedia sendiri, nama ini sudah tak asing lagi.
Laki-laki asal Semarang lulusan ITB kelahiran 30 Januari 1956 ini sudah berkiprah menjadi wartawan di Harian Kompas puluhan tahun lalu, bahkan lebih. Bertubuh gempal dan gesit berburu berita, ilmuwan dan seorang astronom ini memang sungguh luar biasa rendah hatinya. Ia seakan-akan lupa akan sederetan gelarnya yang ‘es satu, es dua, es tiga’ nya itu.
Baginya bekerja dalam diam, gesit tanpa pamer, sudah menjadi bagian dari hidupnya. Pak Ninok sangat rendah hati ini. Ia pun kerap sekali berada di belahan dunia ini untuk urusan liputan, akademik dan macam-macam. Sebentar ada di Hongkong, tahu-tahu sudah di Rusia, lalu kembali ke Yogya, muncul lagi di Palmerah kantornya, lalu sudah ada lagi di Medan maupun Jerman. Berbagai pejabat penting menjadi teman dan sumber beritanya.
Dan mereka, rata-rata memang kagum atas kepintaran dan wawasan luas Pak Ninok. Sebagai orang biasa saya senang dan bersyukur sekali kalau suatu saat bertemu banyak orang yang rendah hati dan pintar, meski pengalaman hidup di luar negeri sudah seperti makanan sehari-hari. Seperti seorang Ninok Leksono
Mencintai dunia seni
Sore harinya, saya bersama teman-teman diajak Pak KM, ngopi bersama Pak Ninok di Solong, kedai kopi yang terkenal di Banda Aceh. Di sela-sela waktu ngobrol itu, diapun bercerita banyak tentang kegiatannya diluar aktivitas menulis dan akademis.
Baru-baru ini Pak Ninok manggung di Sydney. Pasti kaget kan ?
. Mula-mula ia tutup mulut tak bercerita kepada kami, sampai acara ngopi sudah selesai dan saya mengantarkanya ke hotel barulah ia mengaku. Tak main-main, ia manggung di opera house, Sydney, melakoni tokoh pewayangan.
Pak Ninok pencinta budaya. Sebagai seorang astronom handal yang menekuni soal humaniter, ia juga rajin sekali menulis seni budaya di Kompas. Tentang opera, balet, konser klasik, piano solo, dan macam-macam.
Minatnya ke dunia seni memang luar biasa. Ninok juga sempat menjadi anggota paduan suara. Ia bisa bermain piano, bahkan drama sampai opera house di Sydney, wah….. Seandainya banyak orang terdidik dan punya kesempatan luas untuk bisa menempuh pendidikan seperti dia, dan tetap rendah hati dan senang berbagi informasi, betapa indahnya dunia pengetahuan
Pak Ninok, si rendah hati, namun punya hasil yang selalu raksasa dan membanggakan negeri ini. ???You Have inspired me a lot for my creativity




