Pelajaran dari seorang, Susan Boyle – Winner Britain’s Got Tallent -

BULAN April 2010, memasuki minggu ketiga. Udara di Banda Aceh tak seperti hari-hari sebelumnya yang panas dan sangat “menggigit “ kulit. Warna kulit saya yang hitam, semakin terlihat hitam (meski masalah kulit tak sepenuhnya menyalahkan matahari) .

Minggu ketiga bulan april, adalah hari-hari yang sangat padat. Saya beserta rekan-rekan kerja di tim Training Knowledge Management, EO yang baru kami bentuk, mempersiapkan target-target pencapaian yang harus kami kejar. April adalah bulan kedua kami (saya dan teman teman) bergabung dalam EO yang kami bentuk sendiri

Sabtu ini, saya masuk kantor. Perubahan—perubahan agenda wokshop dan jadwal narasumber yang akan berbicara dalam workshop tanggal 28 April yang akan datang, sedikit berubah dari sisi narasumber. Salah seorang narasumber berhalangan karena harus ke Belanda.

Saya harus mempersiapkan diri membuat presentasi untuk menggantikan nya. Dengan senang hati stay menghabiskan Sabtu saya separuh nya di kantor baru kami. Namun saya tidak sendiri, ada Imam, Raja dan AMNA, yang juga sibuk dengan tugas mereka masing-masing di ruangan. Sabtu yang menyenangkan

***
Ditengah kesibukan bekerja, Imam Munandar, menawarkan Video tentang seseorang paruh baya bernama Susan Boyle. Semula saya menolak. Saya berfikir ini pasti akan sangat menggangu kosentrasi saya menyelesaikan slide presentasi yang baru terbuat 4 lembar dari 10 lembar yang saya rencanakan. Namun saya putuskan menonton

Saya hanya ingin share mengenai keajaiban setelah menyaksukan video tersebut. Video ini, menceritakan tentang kemampuan seseorang yang sangat terpendam terpendam. Seseorang yang sangat tidak diduga. Seseorang bernama Susan Boyle, hanyalah seorang wanita pengangguran berusia 47 tahun yang tinggal di sebuah desa di Inggris. Susan Boyle adalah kontestan Britain’s Got Talent 2009 yang fenomenal.

Dengan penampilan yang menunjukan bahwa ia tidak ingin melebih-lebihkan sesuatu yang ia miliki hingga under estimate dari pertanyaan-pertanya an yang Simon (yang juga salah seorang juri Amerika Idol, yang sangat pedas dalam hal kritikan) ajukan, sampai-sampai raut wajah penonton menggambarkan sesuatu yang merendahkan wanita yang satu ini.

Sekilas, dalam video memang terlihat sangat demikian. Dengan rambut yang agak ikal seperti tidak tertata dengan rapi, dan postur badan yang jarang di idolakan oleh banyak manusia rupanya tidak berarti apa-apa. Riasan wajah dan kostum Susan hari itu, hanyalah tampilan luar dirinya, dan bernyanyi adalah hal lain baginya.Sebelum pentas diketahui bahwa Susan tidak ingin dimake over oleh team penata rias dan ingin tampil apa adanya dengan dandanan seadanya saja.Sampai saatnya ia dipersilahkan menunjukan kemampuan bernyanyinya.

Semua mata terlihat mimik yang meremehkan. Namun apa yang terjadi, hanya butuh satu teriakan pada alunan pertama musik bernada seperti musik klasik Inggris, semua orang terbius, semua mimik wajah berubah seketika, tidak ada yang bisa menyangkal.

Ternyata, hanya butuh butuh beberapa detik pertama untuk meyakinkan penonton ataupun juri (terutama Simon Juri yg terkenal high level ini memperlihatkan wajah terkejutnya)

Dunia pun terbius. Untuk melengkapi tulisan ini, sayapun membuka Youtube. Ternyata ada 29 juta orang lebih melihat video rekamannya. Hal ini mengingatkan saya pada istlah “Don’t Judge a Book by its cover”. Itulah salah satu indahnya tidak mudah meremehkan orang, kita tidak pernah tahu sebenarnya siapa orang yg kita nilai rendah- remeh itu.

Seandainya panitia seleksi tidak mengijinkan wanita ini tampil hanya karena dandanannya yang terlalu sederhana bagi standar panitia, ataupun penampilan fisik yang tidak mendukung untuk menjadi bintang, maka DUNIA tidak akan pernah tahu ADA HAL HEBAT yang mungkin terdapat didalam diri orang yang dianggap remeh ini.

***

KISAH Susan Bolye, sangat membelalakan jutaan mata penonton video tersebut, termasuk saya. Belum habis saya berfikir tentang video tersebut, sebuah pesan masuk ke dalam handphone saya. Pesan dari seorang sahabat baik saya, Mas Samuel Mulia. Penulis Parodi di Koran Kompas.
Mas Sam, membagi cerita tentang seseorang yang bernama Frank Slazak. Begini kisah Frank yang di sampaikan Mas Sam lagi kepadaku

begitu isi kisah itu :

… dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 org, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi , latihan ketangkasan , percobaan mabuk udara.

Siapakah di ant kami yg bisa melewati ujian akhir ini?

Tuhan, biarlah diriku yg terpilih, begitu aku berdoa.

Lalu tibalah berita yg menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah.

Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi.

Rasa percaya diriku lenyap, n amarah menggantikan kebahagiaanku.

Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam?

Aku berpaling pada Ayahku. Katanya “Semua terjadi karena suatu alasan.”

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger.

Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku unukt terakhir kali.

TUHAN, Sebenarnya aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu.

Kenapa bukan aku?

73 detik kemudian , Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang.

Aku teringat kata-kata ayahku,”Semua terjadi karena suatu alasan.”

Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya, karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup . Aku tidak kalah, aku seorang pemenang

Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, msh hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua do’a kabulkan.

Inti dari pelajaran ini : Apabila Tuhan mengatakan Ya, maka kita akan mendapatkan apa yang kita minta. Apabila Tuhanmengatakan Tidak, kita akan mendapatkan yang lebih baik. Apabila Tuhan mengatakan Tunggu, maka kita akan mendapatkan yang terbaik sesuai kehendak-Nya, tepat waktu.

***

Saya pun harus berteimakasih pada Imam MUNANDAR, seorang sahabat, yang telah merekomendasikan saya menonton video perlehatan akbar bertajuk ” Britain’s Got Tallent. Tentu saja juga kepada Mas Samuel Mulia, yang membuat pelajaran besar di hari Sabtu ini bagi saya.

This entry was posted in Testimoni. Bookmark the permalink.

4 Responses to Pelajaran dari seorang, Susan Boyle – Winner Britain’s Got Tallent -

  1. Mus-Aceh says:

    A very nice writing… two thumbs up :)

  2. Hendra Syahputra says:

    Thanks Bang Mus. semoga sukses ya

  3. Evi Susianti says:

    Setiap orang punya kelebihan masing-masing,..dan tuhan telah mengatur semuanya dengan rapi…
    ….very good article and I like it..

  4. Akang says:

    Ternyata terdapat korelasi yang jelas dan begitu terlihat benang merahnya, similar firman & kehidupan dunia…

    very interesting, I like this…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>