Bergerak akan melahirkan perubahan.
Titik pertama setiap kesuksesan dimulai dari perubahaan. Artinya seseorang harus mau berubah, dari “apa adanya menjadi ada apa-apanya”, Dan, titik awal perubahan itu ada pada kehendak dan kemauan untuk bergerak. Jangan-asal-bergerak Ada rambu penting yang harus diperhatikan dalam bergerak dan beraktivitas.
Karena tidak sedikit sebuah aktivitas yang sudah diawali dengan niat yang baik, akan rusak di tengah jalan. Banyak pilihan langkah yang dimulai dengan keinginan dan maksud yang mulia, namun nilai-nilai itu tercemar saat rencana tengah digulirkan. Mungkin kita pernah mendengar, sebuah kegiatan yang baik semisal peringatan hari besar nasional dan agama yang dilakukan untuk tujuan yang baik, tapi dinodai oleh aktivitas yang tidak baik.
Sebuah gerak perintisan jaringan bisnis untuk memperkuat ekonomi umat, tapi terjerat oleh gurita permainan dunia yang justru melalaikan keakhiratan. Atau malah terjerat oleh lemahnya mental kita menghadapi uang. Sebuah langkah melibatkan diri dalam kancah politik untuk memberi sumbangsih positif bagi perbaikan masyarakat, tapi kemudian terbawa oleh arus permainan kotor di dunia politik, atau makin menipisnya sikap kritis, dan sebagainya.
Tiga dimensi gerak
Tiga dimensi gerak. Gerakan yang harus dipelihara adalah aktivitas yang meliputi seluruh aspek tubuh. Minimal ada tiga bentuk gerak yang harus diperhatikan
Gerak Rasa
Bisa juga disebut dengan gerak hati. Artinya adalah aktifitas kalbu yang dapat memberi kesegaran dan pencerahan batin. Bentuknya bisa melalui dzikrullah, membaca Al Qur‘an, wirid pagi dan sore, tafakkur dan berbagai aktivitas ibadah lainnya. Kemampuan seseorang mengolah gerak hati secara baik akan memberi pencerahan batin, yang bisa melahirkan kesenangan, ketenangan, stabilitas perasaan dalam menghadapi berbagai persoalan.
Gerak hati ini yang dijalani oleh Rasulullah dan para sahabatnya hingga mereka mampu tegar menghadapi berbagai tantangan hidup dan perjuangan menegakkan Islam. Dalam kondisi genting, seperti saat berperang sekalipun, Islam memberikan peraturan sendiri agar para pejuang tetap melakukan shalat, yakni melalui sholat khauf. Ini bisa menjadi pertanda urgensi aktivitas gerak hati yang tak bisa digantikan dalam kondisi apapun
Hidup harus bergerak
Hidup sebenarnya identik dengan gerak. Sama dengan kematian yang identik dengan diam. Karena itu bergerak, beraktifitas, melakukan berbagai eksperimen, berkreasi, berinovasi dan sebagainya merupakan keadaan yang mutlak dalam hidup. Tanpanya kehidupan bukan saja tanpa makna, tapi membawa bencana.
Bagaimana menumbuhkan vitalitas gerak dalam hidup? Beberapa langkah berikut ini bisa dirujuk untuk mewujudkannya:
Pertama, renungi makna hidup kita masing-masing
Hidup itu konstan bergerak dan dinamis. Ia bisa diibaratkan angin yang meliuk-liuk di bawah lembah, lalu menanjak ke atas bukit. Karenanya ada orang yang mengatakan, mencoba mengartikan hidup sama dengan mencoba mengartikan angin yang tak dapat dilihat mata pada satu titik perjalanan angin tersebut. Sulitnya memaknai hidup karena dinamika dan gerak yang berlangsung pada hidup itu sendiri.
Dan setiap orang tentu akan berbeda-beda membuat makna hidupnya, sesuai dengan perjalanan dan arah hidup yang dia lalui. Tuntunan Allah SWT dalam Al Qur‘an dan petunjuk Rasulullah SAW mengajarkan hidup adalah ibadah, hidup adalah ladang amal, hidup adalah medan perjuangan. Tapi semua orang akan mempunyai lorong sendiri sendiri dalam hidupnya
Keluar dari badai kesulitan
Kesulitan pasti ada. Dalam hidup ini, kesulitan adalah bagian dari kehidupan yang tak terpisahkan. Allah telah menciptakan segala yang ada berpasangan. Ada malam ada siang. Ada tinggi ada rendah. Ada kemudahan ada kesulitan. Karena kesulitan tak mungkin terelakkan, kita dituntut untuk mempersiapkan diri dalam menghadapinya. Tidak sedikit yang sukses keluar dari kesulitan yang terjadi. Tetapi juga tidak jarang yang jatuh terjerembab dalam kesulitan yang lebih rumit.
Ini dampak dari dahsyatnya hantaman kesulitan membentur kita. Sementara kekuatan kita untuk bertahan tidak sekuat dahsyatnya kesulitan itu. Akhir-nya, jangankan untuk keluar dari kesulitan, bertahan pun sulit
Tentu kita ingin selalu menjadi pemenang dari setiap pergumulan hidup. Maka kiranya tips berikut dapat membantu kita untuk bertahan dalam kesulitan. Serta rnenuntun kita keluar darinya sebagai orang yang bisa tersenyum karena mendapat kalung juara
Pertama, Sandarkan Diri Ini Kepada Dzat Yang Maha Menyelesaikan tekanan. Tidak ada orang yang menyukai tekanan. Semua kita akan selalu berusaha menghindari segala bentuk tekanan hidup. Tekanan mencabut kenyamanan hidup kita, dan dalam banyak hal, membatasi ruang gerak kita, serta menyulitkan proses kreativitas kita.
Tapi sejarah justru membuktikan, bahwa karya-karya kepahlawanan sebagian besar malah lahir di tengah tekanan-tekanan hidup yang berat dan kompleks. Sejarah tampaknya tidak ingin memberikan gelar kepahlawanan dengan mudah. Ia memaksa setiap orang membayar harga yang mahal untuk itu.
Kenyataan sejarah itu sebenarnya dapat dijelaskan.
Tekanan-tekanan hidup, secara psikologis, sebenarnya justru berguna untuk merangsang munculnya potensi-potensi yang terpendam dalam diri seseorang, serta merangsang terjadinya proses kreativitas yang intensif. Hidup dalam situasi yang normal biasanya malah membuat orang jadi malas, kurang kreatif dan kurang produktif. Bukan situasi normal itu yang jadi masalah.
Tapi manusia memang pada dasarnya membutuhkan stimulan yang kuat untuk bergerak. Dan tekanan hidup merupakan salah satu stimulan itu
Dalam gerak ada kehidupan
Dalam gerak ada kehidupan. di zaman Rosul dulu, konon. di bukit Uhud yang memerah, pertempuran besar baru saja usai. Orang-orang mulai beranjak. Perlahan. Dalam sisa-sisa tenaga yang berserakan. Darah pekat bergumul dengan debu. Ada banyak perih memagut tulang dan daging yang koyak. Mayat-mayat bergelimpangan. Rasulullah terluka. Orang-orang besar gugur dalam puncak kehormatannya. Hamzah bin Abdul Muthalib, Anas bin Nadhar, Mus’ab bin Umair, dan puluhan sahabat lainnya menghadap Allah sebagai syuhada yang agung. Rasulullah SAW menguburkan mayat-mayat itu. Dua-dua dalam satu kain. Lalu Rasulullah bertanya, “Siapakah yang paling banyak hafal Al-Qur’an?” Setelah diberitahukan mana dari mayat itu yang paling banyak hafal Al-Qur’an, Rasulullah SAW lantas memasukkannya terlebih dahulu ke liang lahat. Sesudah itu Rasulullah SAW bersabda, “Aku menjadi saksi bagi mereka pada hari kiamat.”
Jangan halangi cinta-Nya
Jangan halangi cinta-Nya, ternyata kita masih di sini. Di dunia ini. Hidup dan belum mati. Mungkin ada duka di antara kita. Yang sakit, yang dicoba, atau yang diuji dengan bencana. Tapi sesungguhnya, keseluruhan hidup kita adalah karunia. Di tubuh kita ada banyak tanda cinta-Nya. Mata, telinga, mulut, tangan, dan banyak lagi lainnya. Di sekeliling kita banyak perlambang kasih sayang-Nya.
Ada anak-anak kita yang lucu. Bertingkah manis. Kadang menggemaskan, kadang menyita banyak perhatian dan kelelahan kita. Ada udara yang kita hirup cuma-cuma. Meski tak semuanya segar. Ada matahari yang bersinar terang. Ada hujan yang setia membasahi tanah-tanah kering dan bebatuan. Alangkah luas kasih sayang Allah. Allah SWT mengingatkan kita, “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesugguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.An-Nahl ayat18
Tetapi, lebih dari itu
Ada cinta dan kasih sayang yang sangat diperlukan manusia. Yaitu ampunan Allah atas hamba-hamba-Nya. Perhatikanlah dalam-dalam, bagaimana Rasulullah menggambarkan besarnya cinta dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang bahkan telah melakukan kesalahan. Asalkan mereka mau bertaubat.




Saya salut dengan karya-karya yg bapak buat,,, karena hampir di setiap karya, ada dalil (ayat2), hadist2, atau kalimat zikir lainnya yg bpak selipkan. . . Sungguh luar biasa. . .
# Annawi, sebagai muslim rujukan kita kempali pada Allah dan Rasul. setinggi-tinggi ilmu kita pastilah juga datang dari Allah. saya hanya mencoba untuk belajar dan berusaha untuk tetap baik. kapan-kapan kita diskusi ya. selamat belajar dan sukses
Lee that Pue ka pegah kah asnawi… kon tayak mita boh sidom kedeh… hehehehe